Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Bersama Kopi

Aphrodite dan Wanita Lainnya

Gambar
Langkahnya terbilang cepat dan mantab. Dari balik meja kopi aku memandangnya dan sedikit merasa gelisah. Bagaimanapun juga, secara tidak langsung, ia menjadi korban kami. Dalam beberapa langkah, Ia sudah berada di hadapanku. “Rumi?”, tanyanya. Setelah kuanggukkan kepalaku, Ia langsung menjatuhkan beban tubuhnya pada kursi di hadapanku. Wajahnya yang tak bernoda sedikitpun, menunjukkan wanita kelas atas yang terbiasa hidup tanpa kerja keras. Rambutnya tergulai lemas di bahunya, dengan kacamata yang menampilkan kecerdasan di balik kepalanya. Ia lulusan sebuah universitas di London, seingatku. “Aku Paris.”, ujarnya. Tentu saja aku tahu. Ini yang kedua kalinya ia memperkenalkan diri. “Kamu tahu maksudku mengajakmu bicara?”, tanyanya. “Aku tidak tahu keseluruhannya. Namun nampaknya aku dapat menebak. Mengenai Rendra?” “Tepat! Apa kau pikir, aku tidak akan mengetahui hubungan kalian?”, tegasnya. Aku tersenyum, nampaknya membuat wanita berparas anggun di hadapanku sem...

Ketika Jaka Bertemu Pasta

Gambar
Aku meratapi matahari yang pancaran sinarnya sempat menusuk mataku, merasuk lewat jendela kaca disampingku. Baru beberapa saat yang lalu sosoknya menghadirkan kehangatan, kini memancarkan pesonanya, meminta untuk dipandang dan diperhatikan, dan kelak akan menghilang bila tiba saatnya. Aku berjumpa dengan sosok semacam ini, yang rimbanya kini entah berada dimana. Aku mengeluh dalam peluh, sisa semalam yang belum habis karena merindunya. Kugosokkan kain lap pada meja-meja yang nantinya akan ditumpahi tetesan-tetesan kopi atau serbuk abu rokok oleh para pelanggan, pembantaian pada para pengukir yang karyanya dicurahkan untuk meja di warung kopi ini. Selama berbulan-bulan, kegiatan membersihkan campuran debu, abu, dan kopi menjadi hal yang kutunggu karena sosoknya yang menungguku di meja nomor 23 dengan senyumnya di balik laptop yang memamerkan gigi putihnya. Mungkinkah dia di negeri seberang sana, mencari ilmu yang katanya tak akan didapatkan disini? “Jaka, suatu hari nanti, aku ...

Hujan di Warung Kopi

Gambar
Pukul 17.10 kulihat sosoknya yang membuka pintu kemudian mengayunkan kakinya yang jenjang menuju ke arahku. Seperti biasa double shot cappuccino yang nanti akan ditenggaknya perlahan hingga 10 menit setelah pukul 7 dimana dia akan meninggalkan cangkir kosongnya beserta 4 puntung rokok. Terkadang 5 bahkan 6 puntung ia sisakan, tapi sering kali 4. Aku menyebutnya 'Hujan', tentu saja bukan nama sebenarnya. Aku tidak berniat lancang untuk mengganggunya dengan mencari tahu namanya, pekerjaannya, atau nomor ponselnya. Aku sudah mengagumi diriku yang berani menatapnya dari balik meja kasir atau tersenyum padanya setiap kali dia memandangku, yang jujur saja sangat jarang dilakukannya. Hujan datang setiap hari kerja, kutebak dia bekerja tak jauh dari warung kopi kami. Pakaiannya formil, layaknya para pekerja di gedung-gedung bertingkat, dengan sepatu hitam mengkilapnya. Jalannya tidak pernah berbunyi “tok tok tok” seperti para wanita yang memakai sepatu hampir sama, tapi l...

Antara Kopi, Bapak, dan Aku

Gambar
Aku menghindari sorot mata pria paruh baya yang menyelidik menatapku, seakan mencari tahu apa yang ada dalam pikiranku. Kuarahkan mataku justru kepada pria berambut panjang yang sedang meracik kopi sambil bergerak mengikuti irama lagu, atau pada wanita yang menatap ke arah luar dengan pandangan kosong, seakan lupa pada rokok di sela-sela jarinya yang abunya sudah panjang. Diketukkan rokoknya pada asbak keramik yang tersedia di hadapannya tak lama kemudian, terlambat beberapa detik saja, abu akan mengotori sepatunya yang berwarna merah serupa dengan warna bibirnya. “Bagas, kamu mendengarku bukan?”, tanya pria di hadapanku memastikan. Aku mengangguk, tapi tetap memandangi suasana warung kopi ini. Pria-pria hilir mudik membawa cangkir kopi, baik yang kosong maupun tidak. Suasana dan beberapa wajah yang tidak asing lagi. “Sudah berapa lama?”, tanyaku dalam hati. Mungkin 6 bulan aku tidak kemari. Dan tidak ada yang berubah, bahkan penataan kursi dan mejanya. Aku mengenang sofa tepa...